Digitalisasi Pendidikan Tinggi akibat Pandemi COVID-19

0
Ilustrasi Perguruan Tinggi

Kira-kira dalam sepuluh tahun terakhir, dunia pendidikan tinggi di Indonesia disibukan dengan apa yang disebut dengan revolusi industri 4.0. Perguruan tinggi diharuskan bisa memanfaatkan teknologi digital dalam setiap jengkal aktivitasnya dan mampu membuat proses pembelajaran berbasis online tanpa batasan ruang dan waktu.

Artinya, semua aktivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) seyogyanya bisa dilakukan dengan online, dimana saja, dengan menggunakan gawai masing-masing tanpa harus bertemu secara langsung. Hal ini guna membikin pembelajaran  efektif dan efisien. Mahasiswa dapat melakukan kegiatan perkuliahan dimapun tanpa adanya sekat pembatas ruang dan waktu.

Namun agenda ini bisa dikatakan masih jauh panggang daripada api. Perguruan tinggi di Indonesia masih berada pada ranah persiapan dalam menghadapi digitalisasi ini. Masih banyak hal yang perlu diperbaiki lebih lanjut baik dari segi infrastruktur maupun kesiapan para pendidik dan mahasiswa. Namun, persiapan yang masih panjang tersebut dipaksa dipercepat oleh datangnya pandemic COVID-19. Kedatangan corona mampu mendisrupsi dunia pendidikan tinggi  jauh melampaui kebiasaan yang ada. Lalu, bagaimana corona mengubah muka pendidikan tinggi?

Secara garis besar, kita bisa merasakan dampak COVID-19 terhadap perguruan tinggi pada dua hal, yaitu medium pembelajaran yang berubah dari luring ke daring dan perluasan akses pendidikan tinggi.

Medium pembelajaran yang dulu dilakukan melalui interaksi langsung (luring) kini berubah dengan memanfaatkan teknologi dalam jaringan (daring). Perluasan akses artinya saat ini pendidikan tinggi bukan cuma dinikmati oleh mahasiswa yang duduk di bangku kuliah saja, jauh dari itu dengan pemanfaatan teknologi digital, anak-anak yang tidak mengecap bangku kuliah pun bisa ikut merasakannya.

Pertama, selama ini kita memaknai kegiatan belajar mengajar sebagai proses penyaluran ilmu pengetahuan antara dosen kepada mahasiswa melalui rangkaian aktivitas sakral di dalam kelas. Proses pembelajaran dilangsungkan secara tatap muka dan dalam satu ruang yang sama. Berbagai aktivitas yang lain, semacam pengelolaan administrasi kampus, kegiatan ekstrakulikuler, juga dilakukan melalui pertemuan langsung (face to face).

Kebiasaan ini berubah seiring datangnya COVID-19. Masyarakat perguruan tinggi dipaksa merubah aktivitasnya dari luring menjadi daring, yang semula dilakukan secara langsung (tatap muka) saat ini bisa dilakukan dimana saja menggunakan piranti lunak masing-masing. Kegiatan belajar mengajar tidak lagi sebatas di ruang kelas, melainkan sudah hijrah ke aplikasi digital mulai dari zoom, google meet, skype dan lain-lain. Ponsel pintar, laptop, dan koneksi internet yang stabil menjadi hal yang krusial saat ini.

Saya akan mengambil contoh Universitas Gadjah Mada. Meihat perkembangan virus korona yang semakin massif dari hari ke hari, UGM melakukan langkah preventif dengan mengeluarkan Surat Edaran Rektor tentang Kesiapsiagaan dan Pencegahan Penyebaran COVID-19 mulai tanggal 14 Maret 2020. Salah satu bagian dalam status siaga COVID-19 adalah dengan mengganti kegiatan belaar mengajar di dalam kampus dan kelas menggunakan metode daring untuk menjamin proses keberlangsungan pembelajaran.

Dengan berlakunya beleid ini, berbagai kegiatan kampus pun berubah sebagain besar ke via daring. Dosen harus menggunakan system pembelajaran online yang ada di UGM ; memperkaya sumber belajar berbasis daring ; melakukan pembimbingan konsultasi ; Ujian Tengah Semester (UTS) berbasis daring dan berbagai aktivitas lainnya dilakukan dengan medium internet.

Begitupun kampus saya. Pada tanggal 24 Maret 2020 pihak kampus mengeluarkan surat perihal perpanjangan kuliah daring sampai batas waktu yang belum ditentukan. Mahasiswa dihimbau untuk pulang dan melakukan perkuliahan daring di rumah masing-masing. Disamping kampus mengeluarkan portal resmi system pembelajaran online, para dosen mencoba meramu pembelajaran agar lebih efektif melalui berbagai aplikasi pertemuan digital semacam google meet, zoom sampai whatssapp group.

Kedua, perluasan akses pendidikan tinggi. Meskipun pencanangan digitalisasi pendidikan sudah lama termaktub pada agenda revolusi industri 4.0, sejatinya masih banyak yang perlu dipersiapkan guna menerapkannya di ranah perguruan tinggi. Dengan datangnya COVID-19, ia mampu memberikan efek langsung maupun tidak langsung bagi percepatan transformasi ini. Mengubah paradigma bahwa pembelajaran tidak harus dilangsungkan di dalam kelas, saat ini, detik ini, kita bisa menikmati pembelajaran di manapun dan kapanpun tanpa tersekat ruang dan waktu.

Salah satu hal positif dari pembelajaran berbasis online adalah meluasnya ruang lingkup pendidikan bagi masyarakat. Pendidikan tinggi yang selama ini dicirikan sebagai privilege kaum menengah ke atas, saat ini bisa diakses oleh semua kalangan termasuk wong cilik. Dengan pemerataan akses internet di seluruh Tanah Air, terkhusus wilayah pedalaman, akan membuat anak-anak kurang mampu, gadis-gadis suku, ataupun para remaja adat bisa mengakses pendidikan tinggi dengan lebih mudah dan minim biaya.

Tentu ini merupakan PR besar. Masih banyak hal yang perlu dilakukan pemerintah demi mewujudkan agenda ini. Pembangunan jaringan internet di daerah, Wi Fi publik, pengenalan terhadap teknologi perlu disiapkan masak-masak oleh segala stakeholder terkait. Jika hal ini bisa diwujudkan dengan cepat dan tepat, maka paradigma pendidikan yang selama ini dianggap hanya bisa dilangsungkan di dalam kelas akan berubah 180° dengan bantuan teknologi digital. Kita bisa berkuliah dimanapun dan kapanpun kita mau.

Kampus-kampus Ivy League di Amerika Serikat sudah melakukannya. Disamping tetap membuka pekuliahan dengan skema konvensional (tatap muka), mereka juga mempunyai beberapa mata kuliah yang dibuka hanya secara online. Seperti dalam Brown University, Hardvard University, Priceton University, Yale University dan kelompok Ivy League lain, mereka menawarkan 438 matakuliah online dari berbagai bidang yang bisa diakses siapapun secara cuma-cuma (“Free Online Ivy-League Courses” 2020).

Lain hal dengan Hankuk University of  Foreign Studies (HUFS) di Korea Selatan. Selain tetap mengadakan pembelajaran konvensional, mereka juga menawarkan mata kuliah online dengan mendirikan lembaga baru yaitu Hankuk University of Foreign Studies online (cyber HUFS). Jadi selain melakukan pembelajaran tatap muka, meraka juga mempunyai lembaga baru terpisah yang menawakan perkuliahan secara daring.

Adanya COVID-19 membikin aktivitas perkuliahan yang dulu cuma sebatas pembelajaran tatap muka dalam kelas, kini bisa dilakukan dimana saja melalui teknologi dalam jaringan (daring). Pun dengan meluasnya akses pendidikan tinggi. Aktivitas perkuliahan yang semula dilakukan di bilik-bilik universitas dengan subyek mahasiswa, kedapan sangat mungkin bisa dinikmati siapa saja tanpa harus mendaftar di kampus atau menjadi mahasiswa terlebih dahulu.

 

APA PENDAPAT ANDA

Silahkan masukan komentar
Masukan nama Anda disini